Rehabilitasi dan Reintegrasi

Dialog Kerukunan Dan Perdamaian Di Aceh Singkil

Dialog Kerukunan dan Perdamaian yang melibatkan masyarakat Singkil merupakan inisiasi dari Abdurrahman Wahid Centre-Universitas Indonesia dan Duta Toleransi Singkil Aceh. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari di Hermes One Hotel, 21-23 April 2016, yang bertujuan untuk melibatkan masyarakat secara langsung dalam dialog bersama dengan didampingi oleh beberapa narasumber lokal dari Singkil, seperti Pengurus gereja Lahermanik, juga narasumber dari Jakarta seperti Ahmad Suaedy, Dr. Rumadi Ahmad, dan Ibu Allisa Wahid, salah satu putri dari Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“AWC-UI menyampaikan sikap antusiasme dapat memelopori kegiatan semacam ini, yang mengumpulkan segala pemangku kepentingan dan masyarakat untuk bersama menciptakan kesepahaman untuk menghadapi persoalan masyarakat yang sedang terjadi dengan solusi yang terbaik untuk masyarakat Singkil, dan seluruh bangsa”, ucap Rumadi Ahmad dalam sambutan pembukaan dialog forum tersebut.

Menurut Frida Siska Sihombing (Siska), ketua Panitia penyelenggara lokal, kegiatan ini juga berfungsi sebagai tempat saling bertukar pendapat dan saling menjaga antar umat beragama. Harapan Siska adalah dialog ini dapat memfasilitasi kolaborasi oleh umat Muslim dan agama lainnya dalam menghadapi masalah-masalah setempat, dan aspirasinya adalah agar terjadinya aksi tindak lanjut dari pertemuan dialog ini.

Pertemuan dialog antar agama di Singkil merupakan upaya yang dilakukan oleh AWC-UI dalam mencari titik temu pasca konflik berlatar agama yang terjadi akhir tahun 2015 lalu. Dialog diikuti dengan antusias oleh kelompok masyarakat yang tidak hanya diwakili oleh tokoh-tokoh Islam, namun juga tokoh Nasrani dan perwakilan media lokal. Faizin, salah seorang peserta dialog mengakui bahwa pertemuan antar agama ini untuk pertama kalinya dilakukan oleh masyarakat sipil dengan inisiasi AWC-UI. Dengan mengapresiasi upaya AWC-UI, Faizin menyatakan bahwa sebagai pemimpin umat, ia punya kewajiban menjembatani persahabatan antara umat Kristen dan umat Islam. “Karena kalau hanya satu warna (kelompok/golongan) tidak akan menjadi indah. Mari kita fokus pada hal ekonomi atau bencana alam, jadi jangan masalah keagamaan yang dipermasalahkan.” Tutupnya di sela dialog.

Harapan Faizin juga  selaras dengan Lahermanik, pengurus Gereja Katolik Suka Makmur di Singkil. Baginya, inisiatif AWC-UI dalam mempertemukan kelompok-kelompok yang terlibat dalam pertikaian menjadi upaya penting untuk mencari kerukunan di Aceh Singkil. “Saya berterima kasih, jadi kita berdamai dengan sungguh-sungguh.” Ungkapnya.

Di akhir dialog yang berlangsung dua hari tersebut, Ikrar Perdamaian dan kerukunan antar agama di Singkil yang dibuat bersama oleh perwakilan dan tokoh masyarakat yang hadir dipimpin dan dibacakan langsung oleh Fahmi Iskandar, Ketua Front Pembela Islam (FPI) Kota Subulussalam dengan difasilitasi oleh Teuku Kemal Fasya.

  • Untuk melihat Ikrar Dialog Kerukunan dan Perdamaian di Aceh Singkil, klik disini

 

Kontributor artikel & foto: Abdurrahman Wahid Centre-Universitas Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *