Narasi Tandingan

Kontra Naratif Kelompok Ekstremis

Sejak diblokir oleh Kemenkominfo, blog milik Bahrun Naim, terduga pemimpin aksi teror di MH Thamrin, muncul kembali di dunia maya dengan domain baru dan dapat diakses oleh publik. Dalam update terbarunya tertanggal 18 Januari 2016, terdapat dua tulisan.  Satu tulisan Naim bertajuk “Nasehat untuk Penonton” yang merupakan respons pertamanya atas serangan kepada target yang Ia sebut sebagai “Thagut Indonesia” yaitu Polri. Tulisan berikutnya, masih di tanggal yang sama, bertajuk “4 Strategi Gerilya Kota”, Ia menyeru kepada kaum “muslimin muwahhidin”— suatu nama lain yang sering diidentikkan bagi kelompok berideologi Wahabi—untuk melakukan 4 taktik menyerang “Anshar thagut” (pelindung thagut): membunuh, menangkap, mengepung, dan mengintai.

Dua tulisan pemimpin ISIS Asia Tenggara yang mengandung pesan ekstrem penuh nuansa dan ajakan melakukan kekerasan di atas, menyeruakkan tentang rentannya dunia maya dapat disalahgunakan oleh kelompok ekstremis. Lebih jauh lagi, dengan semakin banyaknya pesan-pesan berbau ajakan kepada ekstremisme dan radikalisme ini, memunculkan perhatian kita tentang perlunya kesadaran masyarakat agar berhati-hati dalam mencerna naratif  berbahaya mereka.

ISIS dan Dunia Maya

Jika ada sebuah inovasi yang pernah dilakukan oleh kelompok radikal pasca serangan 11 September 2001 di World Trade Center (WTC), New York, adalah pemanfaatan dunia maya sebagai alat menyebarkan ideologi mereka, termasuk sarana perekrutan dan radikalisasi. Sifat dunia maya yang bersifat murah, berjangkauan luas,  tanpa batas dan interaktif, seakan menjadi nilai tambah bagi kelompok ekstrem untuk memperoleh anggota—atau setidaknya—simpatisan baru.

Kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) misalnya, memang sudah terbukti dapat memanfaatkan sarana media baru ini dengan efektif.  Data dari Brooking Institute yang dirilis 2015 lalu mengungkapkan fakta-faktanya. Dalam empat bulan (September-Desember 2014), terdapat 46.000 akun sosial media twitter yang terafiliasi ke ISIS. Dari total angka tersebut, arus deras tweets muncul dari sekitar 500-2.000 akun.  Data tersebut juga mengungkap bahwa di setiap akun terafiliasi ISIS tersebut setidaknya memiliki 1.000 pengikut (follower).

Tak hanya lewat media sosial, ISIS juga memanfaatkan beragam situs (website) untuk menyebarkan ideologinya. Fox News pada 12 Januari 2016, mengutip mantan Direktur badan intelijen AS (CIA) Michael Morell, melaporkan bahwa perkembangan situs-situs terafiliasi ISIS jauh melebihi situs-situs pada era Al-Qaeda pimpinan Osama Bin Laden.  Walaupun tidak mengungkap angka pasti, Morell menyebut bahwa situs-situs ISIS tersebut dapat menjangkau setidaknya 20 negara dalam periode satu tahun ini saja.

Cognitive Opening

Terorisme dapat muncul jika terdapat tiga hal ini: terdapat sosok yang teralienasi (alienated individual), legitimasi ideologi (legitimized ideology), dan lingkungan yang memungkinkan menjadi radikal (enabling environment). Dalam konteks ini, media baru dikatakan paling bertanggung jawab pada aspek penyebaran pesan-pesan yang dapat menjadi legitimasi ideologi mereka.

Menelaah lebih jeli pesan-pesan kelompok ekstremis yang tersebar melalui dunia maya, termasuk blog yang ditulis Naim, selalu ada sebuah naratif penggugah emosi yang menurut istilah Eroll Southers (2013) sebagai “cognitive opening” atau pembuka nalar.  Cognitive opening ini merupakan sebuah episode  peristiwa atau pengalaman yang melecut keluhan/penderitaan (grievances) personal sehingga seseorang jadi lebih rentan tertular untuk menerima ideologi ekstrem. Bentuk keluhan/penderitaan ini misalnya pertentangan identitas, ketidakadilan, situasi tertindas dan termarginalkan dan lainnya.

Sehingga tidaklah heran Naim dalam pesan ajakan melakukan kekerasannya berangkat tidak hanya dari menyetir (dengan interpretasi yang keliru tentunya) ayat suci Alquran sebagai “naratif teologis, namun Ia juga mencoba memaparkan “naratif politik” yang klasik bahwa umat Islam sedang dalam episode grievances seperti di Palestina, Irak, Suriah, Somalia, Pattani  dan Moro (Filipina).  Ia juga tak segan berargumen dengan memainkan “naratif historis” bahwa pemerintah ‘sekuler’ Republik Indonesia (termasuk aparat TNI/Polri) sebagai pihak musuh yang dari dulu selalu berusaha menghalangi ‘perjuangan sakral’ kaum mereka membentuk Daulah Islamiyah dan terus menangkapi dan “membunuh” rekan-rekan mereka. Terakhir, Naim lalu mengelaborasi sebuah “naratif instrumental”, yaitu menawarkan betapa “efektifnya” metode kekerasan untuk mencapai tujuan mereka, lewat “4 Strategi Gerilya Kota”.

Literasi Digital

Perkembangan teknologi dunia maya di Indonesia saat ini tengah berkembang pesat. Dari data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJI) pada 2015, jumlah pengguna Internet di Tanah Air mencapai angka 88,1 juta. Dari angka tersebut, menariknya, 49 persennya berusia 18-25 tahun dan 33,8 persen lagi merupakan usia (26-35 tahun). Lebih lanjut dua aktivitas yang paling banyak dilakukan pengguna internet di Indonesia adalah untuk bersosial media (87,4 persen) dan berselancar  (68,7 persen). Kondisi demografi ini ditambah aspek latar belakang religius-historis, menjadikan pengguna Internet Indonesia menjadi sasaran strategis kelompok radikal dalam menjaring simpatisan yang dapat berakhir sebagai teroris “home-grown.”

Oleh karena itu, upaya-upaya countering violent extremism/CVE juga perlu menyasar pada palung dunia maya. Apalagi upaya pemblokiran sudah terbukti tidak efektif. Strategi kampanye dalam jaringan harus disusun dengan matang dengan pelibatan beragam peran-peran konstruksi pesan yang pas, dan medium yang tepat.

Dalam beberapa model best-practices terkait upaya CVE via internet, strategi kontra naratif dapat dilakukan dengan menerapkan tiga hal berikut: pesan, penyampai pesan, dan strategi media daring. Terkait pesan, perlu sebuah kajian detail mengenali narasi-narasi mereka sebelum membentuk kontra narasi untuk mematahkan segala klaim dan pernyataan mereka. Sementara dalam perspektif penyampai pesan diperlukan aktivasi peran aktor-aktor, atau meminjam istilah Gidden (2011), “struktur-agen” yang jelas. Melembaganya secara kultural historis nilai-nilai Islam Nusantara sebagai praktik sosial dalam elemen-elemen masyarakat misalnya, menjadi sebuah struktur nilai dan idelogi kuat hingga dapat memandu para agen-agen berpengaruh/influencer (pemuda, santri, ulama) menjadi “satu suara” menentang ideologi ekstrem.

Terakhir, terkait strategi media baru, tidak semua agen-agen (tokoh agama dan institusi masyarakat keagamaan, santri, dan masyarakat secara umum) memiliki waktu dan kapasitas dalam hal new media outreach (termasuk media sosial). Program peningkatan strategi komprehensif terkait leadership and new (social) media capacity perlu digagas. Lebih dari itu, pemberdayaan dan pembekalan para agen-agen berpengaruh lewat riset dan informasi, serta pembangunan jaringan media sosial oleh para pegiat kampanye CVE akan menjadi jaminan lahirnya kontra narasi efektif yang makin menyempitkan ruang pengaruh kelompok ekstrem di dunia maya.

Ambang Priyonggo, M.A.

Dosen Universitas Multimedia Nusantara; Anggota Tim Narasumber Program Countering Violence Extremism (CVE)-Deputi III, BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terrorism)

Artikel ini telah dimuat di Rubrik Opini SINDO pada 21 Januari 2016. Untuk membacanya, klik disini

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *