Penelitian

KUNJUNGAN RAJA SALMAN: ANTARA KAMPANYE MODERASI DAN EKSPOR IDEOLOGI TEROR

Sebetulnya saya tidak terlalu tertarik mengomentari kunjungan Raja Salman ibn Abdul Aziz ke Indonesia, yang sudah ramai hiruk pikuknya sejak sebulan terakhir. Saya agak jemu melihat gegap gempita penyambutan kunjungan yang mempertontonkan kemegahan dan kemewahan seorang pemimpin pemerintahan yang dengan nafsu amarah imperial dan superioritas militernya telah meluluhlantakan dua negara pusat studi dan kebudayaan Islam; Yaman dan Suriah, serta banyak melanggar hak buruh migran WNI, ditambah melihat ekspektasi masyarakat Indonesia yang begitu besar dan sikap-sikap inferiority-nya.

Di tengah kondisi seperti itu, sore kemarin (3/3), salah satu kru TV9 mengingatkan pentingnya mengambil momentum kunjungan dan niat baik Raja Salman menanggulangi terorisme, untuk mengkampanyekan moderasi pemahaman Islam. Sehingga pagi harinya saya hadir di acara diskusi, dan menyampaikan beberapa hal-ihwal kunjungan tersebut.

Tentang bagaimana saya melihat kunjungan ini, saya memandang kunjungan Raja Salman setelah 47 tahun ini, sebagai sebuah prestasi diplomasi seorang santri, yang meskipun bukan diplomat karir, namun mampu mengemas konsep diplomasinya dengan apik. Misalnya dengan ritme diplomasi gaya ilmu tajwid, kapan harus izhar (keras), kapan harus ikhfa’ (samar-samar), kapan harus menyamakan visi (iqlab), dan ada yang idghom. Begitu pula konsepnya yang lain seperti, takdir diplomasi, bid’ah diplomasi, dan “Saunesia”.

Meski kunjungan ini dianggap bersejarah, hendaknya kita bersikap proposional dan tidak menaruh harapan berlebih pada kunjungan pemerintah Arab Saudi ini.  Karena Arab Saudi adalah negara yang ekonominya tengah limbung. Pada 2015, APBN mereka defisit sebesar SAR 366 miliar dan SAR 297 miliar pada 2016. Jumlah itu setara dengan Rp 1.062 triliun. Pada akhir 2016, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Arab Saudi berutang kepada asing dan memperoleh dana segar sebesar US$175 miliar. Arab Saudi juga akan melepas saham Saudi Aramco, mesin utama ekonomi kerajaan. Lawatan pemerintah mereka ke Asia antara lain bertujuan untuk mencari calon pembeli 5 persen saham Saudi Aramco senilai Rp. 1.330 triliun. Dan dengan spending hidup pangeran-pangeran Saudi yang super glamor, seperti saat ini, hanya soal waktu, negara mereka akan krisis.

Dari segi keberagamaan, melalui kunjungan Raja Salman ini semakin terang mitos kehidupan beragama di Saudi, bagi masyarakat Indonesia. Saudi selama ini dikenal dengan negara dengan pemahaman keagamaan yang ketat, kelompok takfiri dan ahli bidah mengaku banyak berkiblat kesana. Namun Raja Salman datang ke Indonesia dan menunjukkan fakta keagamaan yang jauh berbeda, misalnya dengan bersalaman, termasuk selfie, bersama dengan wanita yang bukan mahram, begitu pula bersalaman dengan Ahok yang “manusia”, putrinya tidak berjilbab, begitupula pramugari pesawatnya, dan mau berdialog dengan para pemuka lintas agama. Demikian pula dalam hal teknis salat, jubahnya tidak di atas mata kaki (isbal), kakinya tidak menginjak kaki jamaah sebelahnya, sedekap di atas pusar, bukan di atas dada, jidatnya tidak hitam, dan tidak komplain ketika ada yang melafalkan “sayyidina” di depan nama Rasululullah.

Kunjungan Raja Salman memang didominasi agenda (penyelamatan) ekonomi Saudi, tapi tidak menutupi fakta bahwa, dari 11 MoU yang ditandatangani, ada hal yang menyangkut agama, dakwah, dan pertukaran budaya. Termasuk rencana pendirian tiga lembaga pendidikan setingkat perguruan tinggi di Surabaya, Makasar dan Medan. Jangan sampai lembaga-lembaga ini menjadi media ekspor ideologi Wahabi radikal, seperti satu lembaga yang didirikan sebelumnya. Indikasinya sudah ada, yaitu pertemuan delegasi rombongan raja di bawah kementerian yang dipimpin oleh Saleh ibn Abd Aziz Al Syeikh, cucu Muhammad ibn Abd al-Wahab (pendiri Wahabi), dengan pimpinan media-media takfiri di Indonesia seperti Rodja TV. Sebagai informasi, setiap tahun rata-rata Saudi menggelontorkan dana 2 miliar dolar Amerika untuk ekspor paham Wahabi.

Wahabisme adalah paham yang dalam sejarah penyebarannya di Jazirah Arab sangat berdarah. Buku Judzur al-Irhab fi al-Akidah al-Wahabiyah, mengungkap akar-akar terorisme terdapat dalam ideologi Wahabi. Media Arabian Bussines menyatakan, sebagian anggota kerajaan sadar bahaya Wahabi ini, namun menanggalkan aliran ini dalam kehidupan beragama Saudi sama dengan bunuh diri politik. Masalah lainnya, belum ada ideologi alternatif disana, yang ada adalah keras dan keras sekali.

Dengan begitu, maka langkah memoderasi pemahaman Wahabi adalah yang paling memungkinkan dilakukan oleh permerintah Saudi. Wahabi, dalam terminologi yang populer, bisa diklasifikasi ke dalam Wahabi ekstrim, akesoris, pragmatis-oportunis, moderat, dan liberal. Wahabi adalah minoritas yang berkuasa, 15% penduduk Saudi adalah Syiah, dan 1/3 penduduk Saudi adalah imigran dengan latarbelakang yang beragam tapi kebanyakan aswaja. Pengaruh Wahabi kuat di daerah Najd, di wilayah Hail, al-Qasim, dan Riyad. Sementara masyarakat di wilayah lain tergolong heterogen.

Berbicara moderasi, mempertemukan Raja Salman dengan tokoh lintas agama adalah langkah pemerintah yang tepat, guna memberikan pengalaman tentang kemajemukan dan toleransi kepada muslim Saudi, melalui Raja. Upaya pemerintah dalam mempromosikan kehidupan beragama di Indonesia ini perlu ditindaklanjuti dengan second track diplomacy para pemuka agama, ini bisa dilakukan oleh ormas seperti NU dan Muhammadiyah, sebagai civil society yang terbukti mampu mengakomodir nilai-nilai lokal ke dalam Fiqh Islam. Jika itu dilakukan maka diharapkan akan terwujud cita-cita agama yang damai dan ramah dalam tataran global, dan itu lahir dari Nusantara. Semoga…

Penulis Artikel:

M. Najih Arromadloni, Koordinator Komunitas Belajar Islam (KBI) Surabaya

Photo Credit: Topikini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *